

KANALBORNEO.COM, SENDAWAR-
Udara pagi di Kampung Muara Begai pekan itu terasa tidak biasa. Kepulan asap tipis akibat kebakaran hutan dan lahan merayap pelan, menyelinap ke celah-celah jendela SDN 10 Muara Begai. Namun, di dalam ruang kelas yang sederhana, gairah belajar anak-anak usia sekolah dasar tidak sedikit pun luntur. Di balik keterbatasan dan tantangan udara yang berat, mereka tetap duduk manis, mendengarkan guru dengan mata berbinar-binar penuh rasa ingin tahu.
Bagi para siswa dan guru, sekolah adalah rumah kedua sekaligus benteng masa depan. Namun, ancaman gangguan pernapasan (ISPA) akibat asap tentu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para orang tua dan pendidik.
Di sinilah sebuah kepedulian tulus hadir menyapa.PT Pamapersada Nusantara (PAMA) datang bukan sekadar sebagai korporasi yang menunaikan kewajiban sosial, melainkan hadir membawa pelukan kasih dan perlindungan bagi 71 siswa dan 15 guru yang tengah berjuang menjaga api pendidikan tetap menyala.
Pelindung Kecil untuk Napas dan Mimpi Besar
Penyerahan bantuan masker khusus anak-anak dan dewasa ini disambut dengan kelegaan luar biasa. Bagi PAMA, kesehatan generasi penerus di wilayah operasional adalah hal yang teramat berharga dan tidak bisa ditawar.
”Kami ingin memastikan anak-anak bisa tetap bernapas dengan lega dan belajar dengan rasa aman. Lingkungan belajar yang sehat adalah hak dasar mereka, dan kami ingin hadir membersamai serta meringankan kekhawatiran para orang tua dan guru di masa sulit ini,” ungkap Michael Elyfas K, CSR Officer PT Pamapersada Nusantara, dengan penuh kehangatan. Senin (21/9/2026)
Sentuhan kemanusiaan ini berhasil meredakan ketegangan di sekolah. Kehadiran tim PAMA di tengah kepungan asap seolah menjadi pengingat bahwa warga Muara Begai tidak sendirian menghadapi cobaan alam ini.
Harapan yang Kembali Bernyawa di Ruang Kelas.
Kepedulian yang tulus selalu sampai ke lubuk hati yang paling dalam. Nodiana, kepala sekolah sekaligus pendidik garis depan di SDN 10 Muara Begai, tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya. Kecemasan yang selama ini menggelayuti benaknya perlahan menguap berkat kepekaan sosial yang ditunjukkan oleh manajemen PAMA.
Ketenangan Batin, mengikis rasa cemas orang tua murid saat melepas anak-anak mereka menuntut ilmu di tengah cuaca buruk. Semangat Terjaga, memastikan proses belajar-mengajar tetap berlangsung nyaman tanpa rasa takut terpapar polusi udara. Rasa Kekeluargaan, membuktikan bahwa ikatan emosional antara perusahaan dan masyarakat lingkar tambang terjalin erat bagai keluarga.
”Bantuan ini bukan sekadar benda fisik berupa masker, melainkan bentuk perhatian tulus yang sangat menyentuh hati kami. Terima kasih PAMA, telah berjalan bersama kami dan peduli pada napas serta masa depan anak-anak kami,” tutur Nodiana penuh haru.
Di balik setiap masker yang dibagikan hari itu, tersimpan cerita tentang solidaritas, empati, dan asa yang tak pernah padam. PAMA membuktikan bahwa kepedulian sejati mampu menembus pekatnya kabut asap, menghadirkan kehangatan, dan menjaga mimpi anak-anak pedalaman Kalimantan tetap bersinar terang.#Aris

