
KANALBORNEO.COM, SENDAWAR-
Rumput Lapangan Rarakuta, Barong Tongkok, Kutai Barat, tidak biasanya dipadati antusiasme sedemikian rupa pada Sabtu (9/5/2026), di bawah langit Kalimantan Timur yang benderang, ratusan pemuda berjersey warna-warni berbaris rapi. Mereka tidak sekadar datang untuk mengejar bola atau memukul voli; mereka hadir untuk merayakan sebuah memori kolektif tentang “Putra Sang Fajar”.
Turnamen Bung Karno Cup I Tahun 2026 resmi dibuka. Sebuah ajang yang digagas bukan hanya sebagai kompetisi fisik, melainkan sebagai upaya rekontekstualisasi semangat nasionalisme di akar rumput.
Penyelenggaraan turnamen ini bertepatan dengan momentum krusial: peringatan Hari Lahir Bung Karno pada 6 Juni. Sosok proklamator itu dikenal lewat tesisnya tentang character and nation building. Di Rarakuta, narasi besar itu diperas menjadi nilai yang lebih membumi: disiplin, sportivitas, dan gotong royong.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kutai Barat menegaskan bahwa inisiasi ini berangkat dari keinginan untuk menghidupkan kembali filosofi dasar sang proklamator. Dengan tema “Sempekat Bersama, Pasti Bisa,” turnamen ini menjadi jembatan antara nilai lokal dan semangat nasional.
“Bung Karno adalah tokoh besar bangsa yang telah meletakkan dasar persatuan, gotong royong, dan nasionalisme. Semangat itulah yang hari ini kita hidupkan kembali melalui kegiatan olahraga,” ujar Ketua DPC PDI Perjuangan Kubar, Frederick Edwin saat memberikan sambutan pembukaan.
Bagi partai berlogo banteng moncong putih di Kubar ini, olahraga adalah media paling cair untuk menyentuh masyarakat. Beliau menambahkan, “Sebab olahraga bukan hanya tentang menang dan kalah, tetapi juga tentang membangun karakter, disiplin, kerja sama, semangat juang, serta mempererat persaudaraan di tengah masyarakat.” ujarnya.
Olahraga sebagai Katrol Ekonomi
Menariknya, Bung Karno Cup I tidak hanya membicarakan skor di papan tulis. Di pinggir lapangan, denyut ekonomi mulai terasa. Lapak-lapak UMKM lokal berjajar, menjajakan kudapan hingga atribut olahraga. Ini adalah manifestasi dari ekonomi kerakyatan yang dulu sering didengungkan Bung Karno melalui konsep berdikari (berdiri di atas kaki sendiri).
Ketua DPC PDI Perjuangan Kubar melihat potensi ini sebagai bagian dari adaptasi tantangan modernisasi. Beliau menyatakan bahwa generasi muda harus mampu mengambil peran positif di tengah arus digitalisasi.
“Saya melihat olahraga saat ini bukan hanya menjadi sarana prestasi, tetapi juga mampu menjadi media pemersatu masyarakat, penggerak ekonomi kerakyatan, serta mendukung tumbuhnya UMKM lokal melalui berbagai event daerah,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Kutai Barat pun memberikan dukungan penuh. Ada harapan besar agar trofi Bung Karno Cup I ini menjadi pemantik bagi lahirnya atlet-atlet profesional dari Bumi Tanaa Purai Ngeriman.
Pesan penutup dari Ketua DPC PDIP Kubar kepada para peserta pun cukup mendalam, menekankan pada kedewasaan dalam berkompetisi: “Menang jangan sombong, kalah jangan berkecil hati. Karena sejatinya kemenangan terbesar adalah ketika kita mampu menjaga persatuan dan kehormatan bersama.” tandasnya.
Visi besarnya cukup ambisius namun terukur: menjadikan ajang ini agenda tahunan menuju Bung Karno Cup II dan seterusnya. Sebuah langkah konkret demi mewujudkan Kutai Barat yang semakin sejahtera, aman, adil, merata, dan beradat melalui napas sportivitas.#AW

