Jumat, 23 Oktober 2026
TurboVPN WW

Merajut Harapan di Tengah Kemarau: Menelisik Makna Sakral Upacara Adat Bayar Hajat dan Nalitn Tautn di Kutai Barat

TurboVPN WW

KANALBORNEO. COM, SENDAWAR-

Di tengah deru modernisasi zaman yang kian tak terbendung, aroma dupa ritual, alunan doa leluhur, dan kebersamaan yang erat merangkul bumi Kutai Barat (Kubar). Suasana khidmat dan penuh kehangatan tampak menyelimuti rangkaian acara puncak adat Bayar Hajat dan Nalitn Tautn. Di tengah dinamika sosial serta hantaman tantangan alam yang mendera, ritual adat ini menjelma menjadi oase spiritual—sebuah momentum sakral bagi masyarakat untuk merajut kembali asa, memperkuat solidaritas, dan memanjatkan doa bersama kepada Sang Pencipta.

​Kehadiran para tokoh masyarakat, termasuk mantan Bupati dua periode yang juga tokoh sentral Kutai Barat, Ismail Thomas, semakin memperkuat rasa kekeluargaan dalam perhelatan tersebut. Dengan penuh rasa syukur, ia mengapresiasi suksesnya seluruh rangkaian acara yang berjalan tertib, damai, dan sarat nilai budaya.

​Respon Kultural di Tengah Situasi Alam yang Tidak Baik-Baik Saja.

Pelaksanaan upacara adat Bayar Hajat dan Nalitn Tautn kali ini memiliki dimensi ganda yang sangat mendalam. Selain sebagai wujud syukur atas suksesnya suksesi kepemimpinan daerah—yakni dilantiknya Bupati dan Wakil Bupati Kutai Barat pada 20 Februari 2025 lalu—acara ini juga dihelat sebagai bentuk respons kultural dan spiritual terhadap situasi alam yang sedang diuji.

​Wilayah Kutai Barat belakangan ini dihadapkan pada terjangan kemarau panjang. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian iklim ini, masyarakat adat Dayak Tunjung dan Benuaq kembali bersandar pada kearifan lokal turun-temurun. Ritual tersebut menjadi medium utama untuk memohon perlindungan, keselamatan, agar roda kehidupan warga dapat kembali berputar secara harmonis.

​

Mantan anggota DPR RI, Ismail Thomas menyoroti betapa rentannya kondisi masyarakat saat ini akibat perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang berkepanjangan. Krisis lingkungan tersebut bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan pukulan telak yang berdampak langsung pada sektor pertanian dan mata pencaharian utama warga sehari-hari.

​Kondisi sungai yang menyusut drastis dan merosotnya hasil sadapan karet menjadi beban ganda bagi warga lokal yang sebagian besar menggantungkan hidupnya pada hasil bumi. Di titik inilah kearifan lokal hadir mengambil peran penting; bukan sekadar pelestarian warisan budaya, melainkan juga berfungsi sebagai mekanisme psikologis dan spiritual untuk saling menguatkan di tengah himpitan kesulitan ekonomi.

“Tentu sangat mengkhawatirkan bagi kita dengan kondisi sungai mengering, hasil panen menurun, salah satunya getah karet menurun drastis walaupun harga bergerak naik, nah ini tentu akan membuat masyarakat semakin susah,” ungkap Ismail Thomas dengan nada prihatin.

​Menjaga Warisan Leluhur di Tengah Arus Modernisasi

​Lebih dari sekadar ritual seremonial, penyelenggaraan adat Bayar Hajat dan Nalitn Tautn ditegaskan sebagai komitmen kultural yang kokoh dalam menjaga identitas masyarakat adat Tunjung dan Benuaq.

​”Di tengah arus modernisasi yang kerap mengikis akar tradisi, perhelatan ini membawa pesan kuat tentang pentingnya gotong royong atau yang dikenal dalam kearifan lokal sebagai Sempekat,” ujarnya.

​Selain itu acara seperti ini adalah wujud gotong royong (Sempekat), jadi mudah-mudahan acara seperti ini bisa terus dilaksanakan agar terjaga kelestarian mengingat acara serupa sudah tidak banyak digelar.

​Melalui tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi ini, nilai-nilai kegotongroyongan, rasa syukur, serta etika memperlakukan alam ditanamkan kembali. Upacara adat bukan sekadar kilas balik masa lalu, melainkan kompas moral yang menuntun generasi muda Kutai Barat untuk tetap mengenal, merawat, dan bangga akan akar budaya mereka dalam menghadapi masa depan.#Ardi.T

TurboVPN WW

Berita Terkait

TurboVPN WW

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TurboVPN WW

Baca Juga