Selasa, 19 Mei 2026
TurboVPN WW

Simfoni Baja di Tana Purai Ngeriman, Ikhtiar Ismael Thomas Merawat Napas Mandau.

TurboVPN WW
Koleksi mandau, Ismail Thomas sebuah Mandau bertahtakan emas dan berlian, menambah daya magis (Istimewa)

KANALBORNEO.COM, SENDAWAR- 

Di bawah kanopi rimbun hutan Kutai Barat, sebuah melodi purba kian hari kian lirih terdengar. Suara dentum besi yang beradu dengan paron mulai kehilangan ritmenya, seolah detak jantung Bumi Tana Purai Ngeriman sedang didera kelelahan. Di tanah ini, Mandau bukanlah sekadar kepingan baja yang diasah tajam; ia adalah rahim dari martabat, sebuah pusaka yang mengalirkan darah identitas Dayak melintasi zaman. Namun, hari ini, kepulan asap dari tungku para Pandai Besi mulai menipis, terancam sunyi oleh dinginnya minat generasi penerus.

Kenyataan pahit inilah yang menyentuh relung sanubari Ismael Thomas. Bagi tokoh masyarakat sekaligus putra daerah Kutai Barat tersebut, membiarkan api tungku itu padam adalah sebuah pengkhianatan terhadap sejarah. Baginya, setiap jengkal Mandau yang gagal ditempa adalah satu bab kebudayaan yang terhapus selamanya dari ingatan dunia.

Menempa Mandau bukan sekadar kerja fisik yang menguras peluh. Bagi para maestro di Kutai Barat, ini adalah dialektika antara kekuatan otot dan keheningan batin. Tak sembarang logam boleh menyentuh bara api. Ardianto,(57) salah satu Pandai Besi yang masih setia memeluk tradisi leluhur, menuturkan bahwa mereka seringkali harus berburu besi mantikei—logam legendaris yang dikenal memiliki kelenturan serupa rotan namun tetap kokoh saat berbenturan di medan laga.

Di dalam bengkelnya yang bersahaja, Ardianto tak pernah bekerja sendirian. Ada doa-doa yang dirapalkan di sela deru napas, dan ada penghormatan kepada leluhur yang diselipkan dalam setiap percikan api yang melompat dari besi panas. Inilah yang membuat sebilah Mandau dipercaya memiliki “jiwa”. Namun, dedikasi yang menuntut kesabaran tingkat tinggi ini kian sulit ditemukan di mata generasi muda yang lebih memilih kenyamanan instan di sektor industri modern.

Ismael Thomas memahami betul bahwa musuh utama dari tradisi ini bukanlah ketersediaan bahan baku, melainkan putusnya estafet keahlian. Modernisasi telah menjadi tembok tinggi yang memisahkan pemuda dengan warisan tangan ayah mereka sendiri.

“Jika kita tidak memberi perhatian sekarang, sepuluh atau dua puluh tahun lagi kita mungkin hanya bisa melihat Mandau di balik kaca museum, membeku sebagai benda mati tanpa kita tahu lagi bagaimana cara menghidupkannya,” ungkap Ismael, Kamis (30/5/2022).

Koleksi Mandau pusaka milik Ismael Thomas (Istimew

Bagi Ismael, dukungan tidak boleh hanya berhenti pada pujian di atas panggung. Ia bergerak melampaui retorika, mengupayakan ekosistem yang mampu menjamin keberlanjutan pasar sekaligus mengembalikan kebanggaan atas profesi ini.

Langkah nyata Ismael Thomas mulai membuahkan secercah harapan. Ia mendorong transformasi pandangan, Mandau harus naik kelas. Dari sekadar alat fungsional menjadi karya seni adiluhung berharga tinggi yang mampu memikat kolektor dunia melalui jalur ekonomi kreatif.

Selain itu, Ismael secara konsisten mendorong pentingnya wadah pelatihan bagi pemuda di Kutai Barat. Ia ingin membuktikan bahwa menjadi seorang Pandai Besi adalah sebuah kehormatan profesional yang menjanjikan secara ekonomi jika dikelola dengan sentuhan manajemen modern.

Namun, ia memberi catatan kaki yang tebal, teknologi boleh mempermudah proses, tetapi teknik tradisional dan ritual spiritual menempa besi mantikei tidak boleh ditawar keasliannya. Itulah “ruh” yang membuat Mandau Kutai Barat tak tertandingi.

Kehadiran sosok Ismael Thomas menjadi oase bagi para pengrajin seperti Ardianto. Dengan nada suara yang bergetar penuh syukur, Ardianto mengaku bangga masih ada tokoh yang peduli pada eksistensi mereka. Ia mengakui bahwa jumlah rekan seprofesinya yang benar-benar memahami anatomi Mandau kini bisa dihitung dengan jari.

Upaya pelestarian ini adalah sebuah maraton panjang yang memerlukan napas yang kuat. Melalui tangan dingin Ismael Thomas dan keteguhan hati para Pandai Besi, diharapkan bara api di tungku-tungku tua Kutai Barat akan terus menyala merah.

Memastikan bahwa dentum palu di Bumi Tana Purai Ngeriman tak akan pernah benar-benar senyap, terus bergema sebagai nyanyian abadi tentang kejayaan yang menolak untuk tunduk pada zaman.

TurboVPN WW

Berita Terkait

TurboVPN WW
TurboVPN WW

Baca Juga