Senin, 25 Mei 2026
TurboVPN WW

Anugerah Naga Sasra, Menakar Asa Ismael Thomas Dalam Pelestarian Budaya di Kutai Barat.

TurboVPN WW

Mantan Bupati Kubar, Ismael Thomas (empat kiri) saat menerima penghargaan Anugerah Naga Sasra dari Kementerian Kebudayaan RI. (Ist)

KANALBORNEO.COM, JAKARTA

Di tengah deru modernisasi yang kerap mengikis ruang-ruang tradisional, merawat warisan leluhur sering kali dipandang sebagai laku yang anakronistis. Namun, bagi masyarakat Kutai Barat, sebilah mandau atau pusaka tosan aji bukan sekadar benda mati yang jamak dipajang di dinding ruang tamu. Ia adalah jangkar identitas, sebuah manifestasi sejarah yang sedang berjuang melawan waktu.

Komitmen menjaga denyut nadi kebudayaan ini baru saja mendapat panggung apresiasi di tingkat nasional. Mantan Bupati Kutai Barat, Ismail Thomas, secara resmi dianugerahi Anugerah Naga Sasra oleh Kementerian Kebudayaan RI melalui ajang Award SNKI. Penghargaan ini menjadi penanda penting bahwa upaya menjaga ekosistem budaya lokal di daerah tetap memiliki gaung yang vital.

Bagi para pelestari tradisi, merawat benda bersejarah memiliki dimensi yang jauh lebih dalam ketimbang sekadar membersihkan karat pada besi tua. Ketua Paguyuban Tosan Aji Pinang Sendawar, Waluyo Dwi Atmojo Setiobroto, menegaskan ada nilai tak berwujud (intangible value) yang dipertaruhkan jika generasi hari ini abai terhadap peninggalan masa lalu.

Ismael Thomas saat menerima penghargaan Anugerah Naga Sasra yang diserahkan langsung oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon. (Ist)

“Ketika pusaka dilestarikan, yang sesungguhnya dijaga bukan hanya bendanya, melainkan ingatan kolektif, jati diri, dan akar budaya bangsa agar tidak hilang ditelan zaman,” ujar Waluyo, menekankan perlunya sinergi kolektif dari seluruh lapisan masyarakat.

Tanpa adanya kesadaran ini, benda-benda pusaka terancam kehilangan narasinya dan berakhir menjadi komoditas tanpa makna. Oleh karena itu, kehadiran figur yang mampu menjembatani kebijakan birokrasi dengan ruang ekspresi kebudayaan menjadi krusial.

Anugerah Naga Sasra sendiri bukan penghargaan yang mudah didapatkan. Apresiasi ini didesain khusus untuk individu atau institusi yang mampu memberikan dampak masif terhadap keberlangsungan ruang budaya. Ismail Thomas dinilai memenuhi kriteria tersebut melalui sejumlah langkah strategis selama kiprahnya, Penyediaan wadah luas, konsisten memberikan ruang bagi pelaku seni, budayawan, dan pelestari tradisi untuk mengeksplorasi karya.

 

Sokongan kebijakan, menghadirkan kebijakan strategis yang berpihak pada kearifan lokal melalui pengaruh institusional.
Dampak sosio-ekonomi, menjadi motor di balik berbagai festival budaya berskala besar yang menggerakkan ekonomi masyarakat bawah.

Kendati menerima apresiasi tinggi, Ismail Thomas tidak menutup mata terhadap realitas yang terjadi di lapangan. Kepedulian generasi muda terhadap kebudayaan lokal saat ini berada di titik yang mengkhawatirkan.

Salah satu potret paling kentara adalah menyusutnya minat pemuda dalam mendalami seni pembuatan Mandau. Menempa mandau bukan perkara mudah; ia adalah proses kompleks yang menuntut keahlian tinggi, mulai dari teknik menempa bilah besi, merajut sarung (kumpang), hingga mengukir hulu (gagang) yang sarat filosofi.

“Budaya adalah kemudi sebuah peradaban. Jika kita membiarkan Mandau dan tradisi leluhur kita punah, kita sedang menghapus jejak sejarah kita sendiri di masa depan,” ungkapnya (24/5/2026).

Menyadari bahwa retorika saja tidak cukup untuk menyelamatkan tradisi yang sekarat, sebuah rencana taktis mulai disusun. Ismail berkomitmen membangun wadah terintegrasi bagi para pengrajin struktur Mandau di Kutai Barat.

Rencananya, ruang kosong di bawah enam rumah adat Lamin yang berada di Taman Budaya Sendawar (TBS) akan disulap menjadi basecamp utama kegiatan.
Di ruang publik inilah nantinya ekosistem pelestarian akan dihidupkan kembali.

Para pandai besi (penempa), pengrajin kumpang, hingga pembuat hulu Mandau akan bekerja dalam satu kawasan terpadu. Melalui pusat kegiatan di TBS ini pula, program pelatihan dan bimbingan teknis berkala akan digelar secara cuma-cuma untuk menjaring minat generasi muda.

Langkah memfungsikan kolong Lamin ini diharapkan bukan sekadar menjadi pusat produksi, melainkan laboratorium hidup tempat transfer pengetahuan antargenerasi terjadi.

Pada akhirnya, penghargaan seperti Anugerah Naga Sasra hanyalah sebuah bonus; esensi utamanya adalah memastikan kepulan asap dari tungku pembakaran mandau di Kutai Barat tidak pernah padam.#Randy

TurboVPN WW

Berita Terkait

TurboVPN WW

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TurboVPN WW

Baca Juga